Meski memiliki postur badan kecil dan usia yang p...
Read MoreKevin Adi Senjaya, peserta didik Brilliant Class ...
Read MoreKakak kelas yang berbaris rapi mengenakan seragam...
Read More
Floryberta Kusuma Putri merupakan seorang guru Bahasa Inggris SDK PENABUR Gading Serpong sekaligus trainer bagi guru bilingual di BPK PENABUR Jakarta. Baginya pendidikan tidak ada yang benar-benar ideal, itu semua adalah formula tunggal dari perjalanan seorang guru dalam mendidik siswa yang bersifat personal.
“Setiap anak punya dunianya sendiri, cara belajarnya sendiri. Oleh karena itu, pendidikan sejati adalah pendidikan yang menghargai keberagaman tersebut dan memberi ruang bagi masing-masing anak tumbuh sesuai irama jiwanya. Ini merupakan “jurus” bagi seorang guru dalam membantu anak didiknya untuk bersinar sesuai talenta yang dimiliki.” ujar Floryberta.
Menurut Floryberta pendidik adalah sahabat perjalanan bagi siswa yang hadir hadir bukan untuk memaksakan satu standar, melainkan membimbing dan mendampingi setiap siswa dalam menemukan versi terbaik dari dirinya sendiri.
Pendidikan ideal versi Floryberta dituangkan dalam karya tulis opini berjudul “Tidak Ada Satu Bentuk Pendidikan Ideal untuk Semua Orang”. Ia membuat karya tersebut dalam rangka lomba Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 yang mengusung tema “Pendidikan Ideal Versi Kamu & Harapanmu pada DPR tentang Pendidikan”, diselenggarakan pada 2-4 Mei 2025.
Dalam kompetisi tersebut Floryberta mengirimkan tulisannya sekaligus foto dirinya sedang mengajar di SDK PENABUR Gading Serpong dan satu foto ketika mengajar di sekolah informal gratis besutannya dan kakaknya “English for Kids”. Tak dinyana, karya tulis yang dibuat Floryberta berhasil meraih juara 1.
Penerapan pendidikan ideal yang dilakukan di kelas
Pendidikan ideal versi Floryberta tidak hanya dituangkan dalam bentuk tulisan tetapi juga diaplikasikan secara nyata lewat pembelajaran di kelas.
Pertama, memberikan ruang untuk keberagaman gaya belajar, “Pendidikan ideal tidak bisa seragam untuk semua anak, karena setiap anak membawa cara belajarnya masing-masing. Di kelas 4 SD misalnya, saya mengajar enam kelas yang sangat berbeda. Ada kelas yang senang sekali bercerita, ada yang lebih suka menulis, ada yang sangat aktif secara fisik, dan ada pula yang masih kesulitan menyampaikan pendapatnya. Karena itu, saya tidak bisa memakai satu gaya mengajar untuk semuanya.” jelasnya.
“Saya menyesuaikan pendekatan dan metode di setiap kelas. Misalnya, saya menggabungkan berbagai media seperti video, permainan peran, gambar, dan aktivitas fisik dalam pembelajaran bahasa Inggris. Porsi setiap media pun berbeda tergantung kebutuhan dan minat belajar masing-masing kelas saat itu. Prinsipnya sederhana: tidak ada satu bentuk pengajaran yang ideal untuk semua anak.” lanjut Floryberta menjelaskan.
Kedua, Floryberta turut membangun empati kepada setiap siswa agar mereka merasa aman secara emosional. Caranya membangun relasi secara tulus dan penuh penghargaan menjadi dasar pendekatan yang dilakukan.
“Salah satu kebiasaan yang saya lakukan adalah mengadakan sharing circle setiap selesai belajar. Dalam sesi ini, siswa bebas berbagi perasaan dan pengalaman mereka tanpa takut dihakimi. Ini membantu mereka merasa dihargai dan didengar, yang pada akhirnya memperkuat iklim positif dalam kelas.” tutur Floryberta.
Ketiga, menjadi fasilitator bukan hanya penyampai materi. Jadi, sebagai guru Floryberta berpendapat mendorong siswa untuk uk aktif berpikir dan berproses, bukan sekadar menerima materi. Contohnya, saat mengajar di kelas 4, Ia pernah mengadakan debat lingkungan hidup bertema “Now vs The Future”, apa yang akan terjadi jika hutan terus digunduli demi pembangunan kota. Lewat diskusi tersebut, siswa belajar berpikir kritis, menyampaikan pendapat, dan mempertimbangkan dampak jangka panjang dari keputusan yang diambil oleh masyarakat.
Ability to Learn penting dimiliki seorang guru
Floryberta merupakan salah satu guru yang senang mengembangkan diri agar nilai diri sebagai pendidik secara pribadi turut meningkat.
“Salah satu buku yang sangat menginspirasi saya adalah Make Your Bed, yang mengajarkan bahwa dengan menyelesaikan satu tugas utama di pagi hari, kita menciptakan dorongan semangat untuk mencapai hal-hal lainnya sepanjang hari. Hal sederhana namun sangat berdampak.” tutur Floryberta.
Selain mengajar di kelas menurut Floryberta penting bagi seorang guru untuk mengikuti berbagai kompetisi, tujuannya tentu untuk pengembangan diri.
“Ayo, Bapak dan Ibu pendidik, mari kita terus menyalakan semangat belajar dan bertumbuh, tidak peduli berapa usia kita. Karena bukan soal usia, melainkan semangat yang terus menyala. Sekali lagi, bukan tujuan akhirnya yang paling penting, tetapi perjalanan dan proses yang kita jalani. Proses inilah yang akan menempa kita menjadi manusia yang utuh, reflektif, dan mampu berkontribusi lebih besar bagi sesama.” ajak Floryberta kepada guru-guru di BPK PENABUR Jakarta.
Floryberta adalah salah satu guru BPK PENABUR Jakarta yang menerapkan profil PENABURS dalam dirinya, yaitu Ability to Learn. Menurutnya, sebagai pendidik harus terus belajar. Ia percaya pondasi paling kuat dalam proses mendidik adalah menciptakan budaya yang mencintai pembelajaran, baik bagi murid maupun gurunya.
Saya ingin anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa bahwa belajar itu menyenangkan, menantang, dan bermakna. Namun tentu saja, budaya seperti itu tidak akan terbentuk tanpa contoh nyata dari para gurunya.” tutup Floryberta.
Informasi selengkapnya mengenai SDK PENABUR Gading Serpong dapat klik tautan berikut ini https://bpkpenabur.or.id/tangerang/sdk-penabur-gading-serpong
Daftar Indeks Berita Terbaru dari BPK Penabur
© 2019 YAYASAN BPK PENABUR