HAPPY SUNDAY ASB - 27 APRIL 2025
Berita Lainnya - 27 April 2025
Seni Mendengar dengan Hati
📖 "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah." (Yakobus 1:19)
Dalam dunia yang serba cepat ini, kecepatan berbicara sering kali dianggap lebih penting daripada kemampuan mendengarkan. Namun, Yakobus mengingatkan bahwa menjadi cepat dalam mendengar, lambat berbicara, dan lambat marah justru adalah tanda kedewasaan iman. Tuhan mengajarkan kita bahwa mendengar bukan sekadar mendengarkan suara, tetapi hadir sepenuh hati untuk memahami orang lain.
Mendengarkan dengan hati membutuhkan kerendahan hati dan kasih. Dalam relasi keluarga, mendengarkan sungguh-sungguh dapat menghindarkan kesalahpahaman dan mempererat kepercayaan. Di lingkungan kerja atau sekolah, sikap mendengar terlebih dahulu menunjukkan kematangan pribadi. Bahkan dalam pelayanan, mendengar menjadi pintu masuk untuk menunjukkan empati dan kasih Kristus kepada sesama.
Teladan Yesus dalam Markus 10:21 memperlihatkan bagaimana Ia memandang dan mengasihi sebelum berbicara. Ini menunjukkan bahwa mendengar dengan kasih lebih penting daripada sekadar memberi respons cepat. Sejalan dengan itu, filsuf Epiktetos berkata, "Kita memiliki dua telinga dan satu mulut agar kita lebih banyak mendengar daripada berbicara." Ini menggarisbawahi pentingnya mengutamakan mendengarkan dalam membangun hubungan yang sehat.
Amarah yang tak terkendali sering kali berawal dari kegagalan untuk mendengar dengan sabar. Amsal 14:29 memperingatkan, “Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.” Dengan belajar untuk mendengarkan lebih dahulu, kita memberi ruang bagi hikmat Tuhan untuk membimbing tindakan dan perkataan kita.
Dalam dunia yang penuh kebisingan, menjadi pribadi yang lambat berkata-kata dan lambat marah justru menunjukkan kekuatan sejati. Ini adalah wujud nyata dari karakter Kristus yang lemah lembut dan penuh kasih.
Refleksi:
- Seberapa sering saya benar-benar mendengarkan orang lain tanpa terburu-buru menjawab?
- Apakah saya mudah terpancing emosi sebelum memahami masalah dengan utuh?
- Bagaimana saya dapat menjadi pendengar yang lebih penuh kasih dalam keseharian?
Doa:
Tuhan Yesus, ajarilah aku untuk menjadi pendengar yang setia, berbicara dengan bijaksana, dan mengendalikan amarahku. Tuntunlah hatiku agar mencerminkan kasih-Mu dalam setiap interaksi dengan sesama. Berikan aku kerendahan hati untuk mengutamakan mendengar daripada berbicara, dan kesabaran untuk memahami sebelum bereaksi. Biarlah hidupku menjadi alat kasih dan damai-Mu di dunia ini. Dalam nama Yesus aku berdoa, Amin.
Informasi Terkini seputar sekolah kristen BPK PENABUR
Daftar Indeks Berita Terbaru dari BPK Penabur