Cikal-Bakal        

Barangkali banyak yang belum tahu kalau Indramayu, Cianjur, dan Bogor merupakan tempat berdirinya sekolah yang pertama yang ada di Jawa Barat pada abad ke 17. Karena pada pada masa kolonial belum banyak lembaga pendidikan formal seperti sekarang. Menurut Benny G. Setiono dalam bukunya “Tionghoa dalam pusaran politik” disebutkan bahwa pada masa Hindia Belanda hanya terdapat sekolah untuk anak-anak Eropa saja, sedangkan bagi anak-anak bumiputera dan Tionghoa tidak tersedia sama sekali. Sekolah khusus untuk anak-anak Eropa yang pertama dibuka pada tahun 1816.

Bagi anak-anak bumiputera akhirnya dibuka sekolah-sekolah khusus, pada tahun 1893 di seluruh Hindia Belanda terdapat 504 sekolah “Inlandsche Scholen”, dan pada tahun 1910 ada 953 “Tweede Klasse Scholen”.

Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial menerapkan politik etis terhadap penduduk Hindia Belanda, antara lain menyangkut sektor pendidikan. Namun, fasilitas ini tidak diberikan kepada golongan Tionghoa sehingga mereka terdorong membuat sekolah sendiri, Tiong Hoa Hwee Kuan (THHK). 

Pasal 128 Regeeringsreglement 1854 yang memerintahkan para gubernur jenderal mengatur sekolah, tapi tidak termasuk untuk anak-anak Tionghoa, sehingga mereka tidak dapat diterima baik di Europeesche School maupun Inlandsche School. Jadi bagi anak-anak Tionghoa sama sekali tidak disediakan sekolah.Bagi etnik Tionghoa yang mampu biasanya mengundang guru privat untuk anak-anaknya.

Gerakan liberal di negeri Belanda yang semakin kuat dan meluas telah mendorong kelas menengah Belanda di Hindia Belanda untuk menuntut adanya berbagai perbaikan terutama di bidang pendidikan dan kesehatan. Terdesak oleh gerakan-gerakan yang menuntut dilaksanakannya politik etis (ethische koers), terutama setelah terbitnya buku Max Havelaar karya Dr.Douwes Dekker

alias Multatuli, maka pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengijinkan misi keagamaan Katholik dan para zendeling Protestan untuk membuka sekolah-sekolahnya.

D.J. van der Linden

                Konon ada 3 orang yang dikirim oleh Nederlands Zendingsvereniging , Zendeling – zendeling ini adalah C. Albers, D.J. van der Linden, dan G.J. Grashuis. Untuk mengemban tugas misioner berlandaskan pada isi berita evangelistik : “Gaat dan henen, onderwijst al de volken” (pergilah kalian ajarilah semua bangsa) mereka membuka sekolah. Albers dan Grashuis menetap di Cianjur, sedangkan van der Linden di Indramayu.

                Sekolah yang dirintis oleh Van der Linden di Indramayu terbuka bagi anak-anak Eropa pada pagi hari dan bagi anak-anak Tionghoa pada sore hari. Oleh residen Cirebon F.H.A. van de Poel, sekolah Kristen di Indramayu ini disebut sebagai sekolah yang terbaik di seluruh Jawa, demikian menurut surat Zendeling D.J van der Linden kepada pengurus pusat NZV, Indramayu, 11 September 1867, ARvdZ, 14-3. (Dr.Th. van den End, Sumber-sumber Zending tentang Sejarah Gereja di Jawa Barat 1858-1963)

                Pada tahun pertama dibukanya sekolah ini hanya tercatat 3 orang siswa, namun dalam waktu tidak begitu lama kemudian jumlahnya bertambah menjadi 17 siswa dan pada tahun 1878 jumlah siswa yang terdaftar ada 74. Pada tahun  1871, Dirk Johannes Van der Linden (Zendeling pertama di Indramayu 1864-1871) meninggalkan Indramayu pindah ke Bogor  dan sebagai penggantinya adalah Jan Lambreccht Zegers.

Sekolah ini rupanya berbahasa pengantar Belanda dan Melayu, seperti yang dicatat dalam Kitab Peringatan 100 tahun GKI Indramayu: “Sekolah dengan bahasa Belanda yang dikelola oleh seorang guru, putri dari zendeling A.de Haan    yang bernama Johanna Maria de Haan mendapat kemajuan, tetapi sekolah dengan bahasa Melayu kurang mendapat perhatian”. Pada tahun 1906 sekolah Zending di buka juga di Jatibarang ,Ong Gwan Swie dan Ong Kim Hong ditempatkan disini sebagai tenaga pengajar. Kemudian di tahun 1930 Zending membuka sekolah di desa Jangga Losarang, dengan tenaga pengajar : Asmawi Tombo, Wejalib dan Kho Im Liong (Yohanes Ang, Seraut Wajah Jemaat Desa).

Hollands Chineesche Zending School

Kemudian di tahun 1922 sekolah ini dikembangkan menjadi Hollands Chineesche Zending School (Ronny Nathanael, Pandangan terhadap materi di kalangan orang Kristen berlatar belakang etnis Cina).

Gedung sekolah HCZS yang dibangun diatas tanah bekas lokasi bangunan gedung gereja pertama (1876). tersebut sekarang menjadi kompleks sekolah BPK Penabur  jalan Veteran.

Pada tahun 1942 HCZS pernah ditutup karena pelbagai pergolakan yang terjadi saat itu, dan dibuka lagi pada tahun 1948 dengan nama Sekolah Rakyat Kristen di tempat lain yang terletak di sebelah selatan lapangan basket jalan Cimanuk (Buku Kenangan HUT 135 GKI Indramayu).

Meskipun hanya diadakan dalam sebuah gudang namun kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung dengan baik, ini semua berkat pelayanan serta pengabdian dari para pengajarnya saat itu, antara lain: Gan Kwat Teng, Johana Joenoes, Sarah Joenoes dan Siti Zochra Joenoes  

BPK Penabur

BPK PENABUR Indramayu berdiri pada Juni 1960. Dengan susunan pengurus masa pelayanan tahun 1960-1963 penasihat: Pdt. Benny Gouw, ketua: Yap Tek Kin, wakil ketua: Tan Hong Djian, penulis 1: Tan Hoey Liam, penulis 2: B. Sitompul, bendahara: Oey Tiong Hin. Jenjang sekolah yang dibuka waktu itu adalah TK, SD dan SMP. Persiapan yang dilakukan begitu sederhana. Dengan sarana yang belum memadai, maka dimulailah pendaftaran siswa baru tahun pelajaran 1960/1961 untuk jenjang TK, SD dan SMP. Pembukaan secara resmi dilaksanakan pada hari Senin tanggal 1 Agustus 1960 dengan upacara sederhana.

Pada tanggal 2 mei 1992 BPK Penabur Indramayu mulai menempati gedung sekolah yang baru,  yang diresmikan pemakaiannya oleh Bupati Kepala Daerah Tingkat II Kabupaten Indramayu. Bangunan itu terdiri atas tiga ruang belajar SMPK, dua ruang belajar TKK, satu ruang “lima sudut” untuk TKK, satu ruang untuk laboratorium komputer, satu ruang tata usaha, satu ruang untuk pengurus, tiga ruang untuk kepala TKK, SDK, dan SMPK serta satu ruang BP.Ketua KPS (Komisi Pembantu Setempat) BPK PENABUR Indramayu sejak awal berdiri adalah:
Yap Tek Kin adalah ketua yang pertama. Ia memimpin tahun 1960 – 1963. Selanjutnya Odang Tjasmita (1964 – 1966), Leman Bunyamin (1966 – 1968), Kho Kwat Eng (1968 – 1970), Odang Tjasmita (1970 – 1975), Tanudi (1975 – 1982), Rahman Setyono (1982 – 1986), Ny. S. Heliana (1986 – 1990), Harmen Mundung (1990 – 1998), Suharlin Suyanto, SH (1998 – 2002). Prajitno ( 2002 – 2010 ).

Perkembangan penerimaan jumlah siswa baru di BPK Penabur Indramayu selalu mengalami pasang surut. Ini tidak lepas dari semakin sedikitnya minoritas masyarakat Indramayu yang beragama kristen. Hal ini menjadi salah satu problema dari tahun ke tahun yang dialami oleh Sekolah BPK Penabur Indramayu. Berikut adalah data rekapitulasi Jumlah Siswa BPK Penabur Indramayu.

Choose Your School