Yayasan

Catatan dari Ketua Umum Yayasan BPK PENABUR dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2019

NEWS - 02 May 2019

Read More
Yayasan

Ibadah Syukur dan Perayaan HUT 7 DASAWARSA BPK PENABUR

NEWS - 18 July 2020

Read More
Yayasan

Pesan Yayasan BPK PENABUR

NEWS - 13 July 2020

Read More

Spiritualitas Guru Kristiani

Artikel - 31 October 2019

Apakah yang diajarkan seorang guru kepada siswanya? Pengetahuan? Kebaikan? nilai-nilai dan kerohanian? Ya, semuanya adalah materi pembelajaran seorang guru dalam profesinya. Namun, mengutip pedapat Palker J. Palmer, yang sering dilupakan dan jarang disadari oleh guru adalah bahwa ia sebenarnya sedang mengajarkan dirinya sendiri, hidupnya sendiri. Disadari atau tidak, peran guru dalam mendidik dan mengajar siswa begitu besar. Banyak riset yang menunjukkan bahwa perubahan perilaku dari siswa akibat dari teladan, didikan dan pendekatan yang dilakukan guru. Dalam relasinya dengan siswa, guru ternyata bukan hanya membantu siswa mengembangkan pengetahuan kognitifnya, tetapi juga mampu membantu siswa mengembangkan dan mengubah tingkah lakunya menjadi lebih baik untuk menjadi pribadi yang utuh di masa depan.

Dalam persidangan Pleno BPK PENABUR tahun 2012 di Bandung, Pdt. Kuntadi Sumadikarya (alm) bahkan menekankan tentang perang guru Kristiani di BPK PENABUR. Menurut pendapatnya, dalam pemahaman spiritualitas dan panggilannya, peran guru adalah peran dalam rangka meneruskan tradisi mengajar Sang Guru (Kristus). Oleh sebab itu, tantangan guru Kristiani seharusnya lebih mendalam, sebab ia berhadapan dengan keyakinan akan tugas dan panggilannya. Guru dengan spiritualitas seperti ini akan tertantang bukan sekadar menjadi guru pada umumnya, melainkan menjadi guru yang mampu meneladani Sang Guru sendiri yang menghidupi ajaran-Nya.

BPK PENABUR sebagai salah satunya  institusi pendidikan Kristen, yang sudah dikenal oleh banyak kalangan, melalui prestasi akademis yang diraih oleh siswa-siswinya baik secara nasional maupun internasional. Sejak tahun 1950 sampai usianya yang ke 69 tahun (2019), telah mengalami perkembangan yang pesat dengan jumlah sekolah sebanyak 147, di 15 kota (Bandar Lampung, Bandung, Bogor, Cianjur, Cicurug, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Jakarta, Jatibarang, Metro, Rengasdengklok, Serang, Sukabumi, dan Tasikmalaya). Dan hal ini terwujud melalui guru-guru yang berdedikasi dan mau melayani di BPK PENABUR sesuai dengan panggilan spiritualitasnya.

Melalui visinya BPK PENABUR berupaya untuk menjadi lembaga pendidikan Kristen unggul dalam Iman, Ilmu dan Pelayanan. Hal ini diupayakan melalui misinya dengan mengembangkan potensi peserta didik secara optimal melalui pendidikan dan pengajaran bermutu berdasarkan nilai-nilai Kristiani (N2K). Perwujudannya adalah dalam bentuk konsep yang diberi nama Pendidikan Karakter Berbasis Nilai-Nilai Kristiani (PKBN2K). PKBN2K diharapkan dapat mewarnai setiap kurikulum dan proses pembelajaran di BPK PENABUR. Guru tentunya menjadi “ujung tombak” pelaksanaannya.

Guru dengan spiritualitas yang baik dan mengajar dengan teladan hidupnya yang baiklah sangat dibutuhkan dalam perubahan dunia yang begitu cepat. Guru diminta bukan hanya pandai berbagi pengetahuan tetapi juga berbagi kehidupan yang sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya. Oleh sebab itu, tantangan kita kita adalah membangun sebuah sistem pendidikan yang berbasis nilai-nilai kehidupan (Kristiani), sebab hal ini akan menjadi keunggulan baru sekaligus kesaksian hidup bagi banyak orang.

Buku karangan Howard Hendricks berjudul Mengajar Untuk Mengubah Hidupi adalah salah satu buku yang bisa menjadi pegangan para guru dalam tugas pelayanannya. Buku Mengajar Mengubah Hidup, berisi 7 prinsip mengajar strategis yang disebut sebagai Hukum, yaitu:

  • Hukum Pengajar (Teacher)
  • Hukum Pendidikan (Education)
  • Hukum Kegiatan (Activity)
  • Hukum Komunikasi (Communication)
  • Hukum Hati (Heart)
  • Hukum Motivasi (Encouragement)
  • Hukum Kesiapan (Readiness)

            Hukum Pengajar  adalah ketika seorang Pengajar harus tahu apa yang akan diajarkannya sebab pengetahuan yang tidak memadai tentu akan tercermin pada mengajar yang tidak memadai (John Milton Gregory). Pengajar yang efektif selalu mengajar dari limpahan hidupnya yang penuh. Hukum pengajar, sangat sederhana: jika anda berhenti bertumbuh hari ini, Anda akan berhenti mengajar di kemudian hari. Filosofi: sebagai pengajar, saya adalah pembelajar, seorang murid di antara para murid. Pertanyaan ini mungkin membantu

  • Mengapa anda mau menjadi seorang pengajar?
  • Apa yang anda harapkan dari mengajar?
  • Apa yang membuat anda tidak bisa melihat profesi lain selain pengajar?
  • Tanyakan sungguh-sungguh ke dalam hatimu apakah memang aku ini seorang pengajar?

Kisah Bu Aline dalam buku Buku Sang Guru Sang Peziarah karangan A. Mintara Sufiyana, SJ dan Yulia Sri Prihartini, S.Pd, M.Hum bisa jadi sangat menyentuh hati kita. Betapa tidak? Pak Paul Suparno sendiri pernah bertemu dengan Bu Aline sebelum beliau dipanggil Tuhan, Pak Paul Suparno bertanya mengapa semua itu dilakukan Bu Aline sewaktu menjadi Guru? Bu Aline menjawab bahwa ia menghayati tugas keguruannya begitu mendalam. Ia menghayati profesinya sebagai panggilan hidup yang dterimanya dari Tuhan sendiri. Karena ia menghayati tugas guru sebagai panggilan dari Tuhan, maka ia berusaha sungguh-sungguh untuk dapat membantu anak-anak sebaik mungkin.  Dan yang ia tiru adalah Tuhan Yesus sendiri yang juga sebagai guru. Ia sangat terkesan bagaimana Tuhan Yesus selalu mendekati para murid secara berbeda, setiap orang secara khas disapa, dibantu dan diteguhkan. Ia juga terkesan bagaimana Tuhan Yesus selalu dapat menghidupkan semangat orang yang sedang lemah, membantu yang sakit, dan juga menghibur yang sedang berduka. Semangat Yesus dan gaya Yesus membantu orang lain itulah yang ia coba teladani dalam hidupnya. Maka, ia memang menjadi Yesus kecil bagi anak-anak yang mengalami diajar, dibantu dan dibesarkan.

Refleksi bagi kita, bisa dibayangkan, bila setiap Guru di BPK PENABUR mempunyai semangat Bu Aline, maka akan banyak anak yang terbantu perkembangannya, bukan hanya dalam hal ilmu saja namun terlebih dalam mengalami Kasih Tuhan yang besar kepada mereka. Dengan pengalaman Kasih itu anak-anak akan lebih bergembira dan lebih berpengharapan dalam menekuni hidup ke depan, Apa yang dibicarakan melalui cerita Bu Aline berbicara mengenai hati. Hati yang seharusnya dimiliki seorang pengajar, ketika seorang pengajar memaknai panggilannya dan bekerja dengan hatinya inilah yang akhirnya disebut dengan mendidik dengan hati (bukan makan hati). Mendidik dengan hati akan memiliki kualitas yang berbeda dibandingkan sekedar mendidik.

Di zaman ini banyak tantangan yang dihadapi guru dalam bidang pendidikan, baik di kelas maupun di luar kelas. Banyaknya tantangan dan juga banyaknya tugas yang harus dilakukan guru, dapat membuat banyak guru kehilangan semangat dan akhirnya melakukan tugas keguruannya secara tidak mendalam. Beberapa guru akhirnya dapat melakukan tugasnya hanya demi mencari uang, yang tidak kunjung banyak.Fokus memaknai panggilan sebagai guru yang salah tentunya akan terlihat pada cara mengajar dan menangani siswa yang Tuhan titipkan.

Hukum Pendidikan  adalah Sebagai pengajar yang efektif, anda bukan hanya harus mengetahui apa yang akan diajarkan, tetapi juga siapa orang-orang yang akan anda ajar.
Fungsi pengajar yang benar adalah menciptakan kondisi-kondisi paling menyenangkan untuk belajar mandiri...mengajar yang benar bukanlah menyampaikan pengetahuan, tetapi menggugah orang untuk mencari pengetahuan, bisa dikatakan bahwa mengajar yang paling baik adalah yang paling sedikit mengajari orang. (John Milton Gregory)

Hukum Kegiatan  adalah Tugas anda sebagai komunikator bukanlah untuk membuat orang terkesan, tetapi untuk memberi pengaruh pada mereka; bukan sekedar untuk meyakinkan, tetapi untuk mengubah mereka. Pengetahuan tidak bisa dipindahkan dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain, seperti halnya kita memindahkan barang, karena pemikiran bukanlah obyek yang bisa dipegang dan ditangani...ide-ide harus dipikirkan ulang, pengalaman harus dialami ulang. (John Milton Gregory). Oleh sebab itu perlu dipikirkan kegiatan bermakna dalam pembelajaran. Kegiatan itu adalah:

  • Kegiatan yang memberi pengarahan tanpa pemaksaan
  • Kegiatan yang menekankan kegunaan dan penerapan
  • Kegiatan dengan tujuan terencana
  • Kegiatan yang peduli pada proses sebagaimana pada hasil.
  • Kegiatan yang mencakup pemecahan masalah hidup secara nyata

Hukum Komunikasi; Komunikasi berasal dari kata latin communis, yang berarti common (sama). Sebelum kita dapat berkomunikasi kita harus membangun commonnes, commonality (kesaman, persamaan) – membangun jembatan. Misi pengajar adalah menggugah pikiran murid, merangsang otak mereka- dengan simpati, dengan teladan, dan dengan setiap sarana pengaruh, melalui berbagai objek yang bisa ditangkap indera, serta fakta yang bisa dipikirkan...Pengajar terbesar berkata: “Benih itu adalah Firman”. Pengajar yang benar menggemburkan tanah dan menanam benih itu. (John Milton Gregory)

Hukum Hati; mengajar yang berdampak bukanlah dari kepala ke kepala, tetapi dari hati ke hati. Bagaimana mungkin sikap pengajar tidak bersungguh-sungguh dan membangkitkan semangat, jika topik yang diajarkannya begitu sarat akan realitas kehidupan yang sangat nyata? (John Milton Gregory)

Hukum Motivasi; Sifat pikiran, sejauh yang dapat kita pahami, adalah suatu daya atau kekuatan yang digerakkan oleh berbagai motif. Suara lonceng bisa terdengar di telinga, obyek yang berkelebat bisa tergambar di mata, tetapi pikiran yang acuh tak acuh tak bisa mendengar atau melihat apa-apa (John Milton Gregory). Mengajar cenderung sangat efektif ketika pembelajar termotifasi dengan tepat.

Hukum Kesiapan  yaitu proses mengajar-belajar paling efektif ketika pengajar maupun yang diajar telah dipersiapkan secara memadai. Hukum ini menyoroti salah satu masalah besar pengajar yaitu: MURID DATANG KE KELAS TANPA MINAT BELAJAR. Banyak pengajar pergi mengajar tanpa persiapan yang matang atau bahkan tidak siap sama sekali. Mereka laksana pembawa pesan tanpa pesan. Mereka kehilangan semua daya dan semangat yang diperlukan untuk menghasilkan buah yang berhak kita harapkan dari usaha mereka. (John Milton Gregory)

Kesimpulan

  • T (Teacher) - hukum Pengajar: Jika anda berhenti bertumbuh hari ini, Anda akan berhenti mengajar esok hari.
  • E (Education) - hukum Pendidikan: Bagaimana orang belajar menentukan bagaimana Anda mengajar.
  • A (Activity) - hukum Kegiatan: belajar yang maksimal selalu merupakan hasil dari keterlibatan yang maksimal.
  • C (Communication) - hukum Komunikasi: agar sungguh-sungguh menyampaikan informasi, harus membangun jembatan.
  • H (Heart) - hukum Hati: Mengajar yang berdampak bukanlah dari kepala ke kepala, tetapi dari hati ke hati.
  • E (Encouragement) - hukum Motivasi: mengajar cenderung menjadi sangat efektif ketika pembelajar termotivasi dengan tepat
  • R (Readiness)- hukum Kesiapan: Proses mengajar belajar paling efektif ketika pengajar maupun yang diajar telah dipersiapkan secara memadai.

Maka di akhir tulisan ini, saya mengucapkan kepada seluruh guru di BPK PENABUR, selamat:

  • Menjadi Guru
  • Menjadi Pengajar
  • Menjadi Pembelajar
  • Menjadi Garam dan Terang
  • Menjadi Dampak yanng baik

Bagian lukas 6:40 mengingatkan kita,”Seorang murid tidak lebih dari pada gurunya, tetapi barangsiapa yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya.”

Jadi sudahkah kita menjadi guru yang meneladankan Kristus dalam pengajaran dan pendidikan kita?

Oleh: Andy Agus Gunawan (BPK PENABUR Bandung/Kader GKI)

(dari berbagai sumber)

Tags:

Read More

Daftar Indeks Berita Terbaru dari BPK Penabur

Yayasan

NEWS - 02 May 2019
Catatan dari Ketua Umum Yayasan BPK PENABUR dalam...

Yayasan

NEWS - 18 July 2020
Ibadah Syukur dan Perayaan HUT 7 DASAWARSA BPK PE...

Yayasan

NEWS - 13 July 2020
Pesan Yayasan BPK PENABUR

Yayasan

NEWS - 26 October 2020
DIGITAL LIBRARY BPK PENABUR

Yayasan

NEWS - 27 October 2020
Launching Buku BERANI BERUBAH

Yayasan

BLOG - 13 June 2020
Tips Menjadikan Belajar Online Menyenangkan untuk...

Yayasan

BLOG - 15 June 2020
5 Hal Seru yang Membantu Anak Makin Giat Belajar ...

Yayasan

BLOG - 16 June 2020
Meningkatkan Efektivitas dengan Mendengarkan Musik

Yayasan

BLOG - 17 June 2020
Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Metode Read al...

Yayasan

BLOG - 18 June 2020
Seberapa Banyak Kata yang Harus Dikuasai untuk Bi...

Yayasan

BLOG - 03 August 2020
5 Cara Menanamkan Rasa Nasionalisme Pada Anak

Yayasan

BLOG - 04 August 2020
Bagaimana Menjaga Efektivitas Belajar Saat Pembel...

Yayasan

BLOG - 05 August 2020
Belajar Cinta Tanah Air Bersama Siswa BPK PENABUR

Yayasan

BLOG - 06 August 2020
BPK PENABUR Siapkan Generasi BEST di Era Disrupsi

Yayasan

BLOG - 07 August 2020
Mengenal Pelajar Pancasila, Tujuan Sekolah Pengge...

Yayasan

BLOG - 08 June 2020
Tips Meningkatkan Konsentrasi Anak Saat Belajar O...

Yayasan

BLOG - 09 June 2020
Ini Dia Biaya Pendidikan Anak Dari SD hingga S1 y...

Yayasan

BLOG - 10 June 2020
5 Manfaat Pendidikan Karakter yang Penting untuk ...

Yayasan

BLOG - 25 June 2020
5 Tips Agar Anak Cerdas Dalam Berinternet. Orang ...

Yayasan

BLOG - 26 June 2020
3 Tipe Gaya Belajar! Mana Gaya Belajar yang Palin...

Yayasan

BLOG - 21 August 2020
Sekolah TKK Favorit BPK PENABUR Bandung dengan Pr...

Yayasan

BLOG - 22 August 2020
Tips Agar bisa Fokus Belajar Home Learning saat P...

Yayasan

BLOG - 29 August 2020
Pentingnya Belajar Bahasa Inggris untuk Semua Ora...

Yayasan

BLOG - 18 September 2020
Mendikbud Membuat Kurikulum Darurat Corona, Apa I...

Yayasan

BLOG - 19 September 2020
Inilah Cara Menyiapkan Dana Pendidikan dalam Seta...