MUKJIZAT BELAS KASIHAN - DAILY DEVOTION
Artikel - 20 February 2025
Saat jeda istirahat, Kayla melihat teman sekelasnya menangis karena bekal yang dibawanya jatuh dan tidak bisa dimakan. Kayla berusaha menenangkan temannya itu, lalu ia mengeluarkan tempat makan dari dalam tasnya. Kayla makan bersama dengan temannya itu karena ia dibawakan bekal lebih oleh mamanya. Beberapa hari kemudian saat jeda istirahat juga, Kayla panik karena ternyata kotak makanannya tertinggal di rumah. Seorang temannya yang lain bertanya, “Kayla, kenapa kamu terlihat panik?” Kayla menjawab, “Kotak makananku sepertinya tertinggal di rumah. Aku tidak bisa makan, padahal aku lapar sekali.” Temannya itu langsung membuka tempat makannya dan berkata kepada Kayla, “Ayo Kayla, kita makan sama-sama saja. Semua makanan ini tidak mungkin aku habiskan sendiri.” Kayla berterima kasih atas kemurahan hati temannya itu. Selesai makan, Kayla bertanya kepada temannya itu, “Mengapa kamu mau berbagi makananmu denganku?” Teman itu menjawab singkat, “Karena kamu juga pernah berbagi makananmu dengan teman yang lain.”
Kisah di atas ingin memperlihatkan mukjizat bermurah hati atau berbelaskasihan. Orang yang pernah berbelaskasihan pasti akan beroleh belas kasihan juga dari sesamanya suatu saat nanti. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena ada satu orang yang sudah menerima belas kasihan. Ketika ada kesempatan bagi orang itu untuk berbelaskasihan kepada sesamanya, ia tidak akan menyia-nyiakannya. Hal itu membuat kemurahan hati atau belas kasihan akan dirasakan oleh semakin banyak orang dan bertambah banyak orang juga yang akan menunjukkan kemurahan hati atau belas kasihannya kepada sesamanya. Belas kasihan berasal dari kata dalam bahasa Latin, compati artinya menderita bersama. Belas kasihan berbeda dengan simpati, empati, dan kasihan. Ketiganya hanya sebatas perasaan, sedangkan belas kasihan berujung pada tindakan.
Sifat atau natur kita sebagai orang percaya sesungguhnya adalah pribadi yang berbelas kasih. Sebab, kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Allah yang kita percaya dan imani adalah Allah yang berbelas kasih kepada manusia. Dalam rupa Yesus Kristus, Ia rela menderita bahkan mati di kayu salib agar manusia selamat dan beroleh hidup yang kekal. Ketika hari ini kita memiliki kesempatan untuk bermurah hati atau berbelas kasih kepada sesama, jangan sia-siakan kesempatan itu. Sebab, kita sudah terlebih dahulu menerimanya dari Allah dan juga dari sesama di sepanjang hidup kita. Tunjukkan kemurahan hati atau belas kasihan kita melalui tindakan nyata, agar dunia ini dipenuhi dengan mukjizat belas kasihan.
Tim Bina Iman Jenjang
Informasi Terkini seputar sekolah kristen BPK PENABUR
Daftar Indeks Berita Terbaru dari BPK Penabur