Indahnya Keberagaman Nusantara
BEST Teens Story - 17 March 2025

Suatu hari di SMAK Penabur Jakarta, kelas XI tengah sibuk dengan tugas Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) dengan tema “Keberagaman Budaya Indonesia” dan setiap kelompok harus membuat presentasi yang menampilkan budaya dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu kelompok terdiri dari Bima, Ana, Chiko, dan Frans. Mereka berasal dari latar belakang yang berbeda: Bima keturunan Jawa, Ana dari Sumatera, Chiko dari keluarga Tionghoa, dan Frans berasal dari Papua. Awalnya, mereka kesulitan bekerja sama karena masing-masing ingin menonjolkan budayanya sendiri.
“Aku rasa kita harus bahas batik. Itu budaya Indonesia yang paling dikenal dunia,” kata Bima.
“Tapi kita juga harus memasukkan tenun songket, itu bagian penting dari budaya Sumatera,” timpal Ana.
“Kalau begitu, bakmi ayam dan bakpao juga harus ada! Itu budaya yang berakulturasi di Indonesia,” ujar Chiko.
Frans yang sedari tadi diam akhirnya berkata, “Di Papua ada tarian Yospan yang keren. Tapi sepertinya kalian tidak akan tertarik dengan budayaku.”
Kelompok mereka mulai terasa tegang. Semua ingin budayanya masuk, tapi tidak ada yang mau mengalah. Mereka pun mengerjakan tugasnya masing-masing tanpa berdiskusi, dan hasilnya tidak menyatu dengan baik.
Saat presentasi sudah dekat, Bu guru mereka bertanya, “Bagaimana progres tugas kalian?”
Dengan canggung, mereka mengakui bahwa mereka belum bisa menemukan kesepakatan. Bu guru tersenyum dan berkata, “Coba pikirkan, apa yang membuat budaya Indonesia begitu istimewa?”
Mereka terdiam, lalu mulai berpikir. Akhirnya, mereka menyadari bahwa justru keberagaman itulah yang membuat Indonesia unik dari negara lain. Mereka pun mulai bekerja sama dengan lebih baik.
Chiko membuat ilustrasi berisi batik, songket, bakmi ayam, dan tarian Yospan dalam satu desain. Ana menulis penjelasan tentang keberagaman budaya, Bima mengedit video tentang kekayaan budaya Indonesia, dan Frans mengajarkan mereka gerakan dasar tarian Yospan untuk ditampilkan saat presentasi.
Ketika hari presentasi tiba, kelompok mereka tampil dengan penuh percaya diri. Mereka menunjukkan bahwa budaya Indonesia bukan hanya milik satu daerah atau satu kelompok, tetapi milik semua yang tinggal di negeri ini. Setelah proyek ini, mereka menjadi lebih akrab. Mereka menyadari bahwa perbedaan bukanlah alasan untuk terpecah, melainkan sesuatu yang bisa menyatukan mereka. Melalui P5, mereka belajar bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan penghalang.
Chelsea Claudya - SMAK 6 PENABUR