Yayasan

Catatan dari Ketua Umum Yayasan BPK PENABUR dalam rangka Peringatan Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) 2019

NEWS - 02 May 2019

Read More
Yayasan

Ibadah Syukur dan Perayaan HUT 7 DASAWARSA BPK PENABUR

NEWS - 18 July 2020

Read More
Yayasan

Pesan Yayasan BPK PENABUR

NEWS - 13 July 2020

Read More

Orang Tua dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses untuk Pembelajaran Tatap Muka

BLOG - 17 September 2020

Orang Tua dan Masyarakat Jadi Kunci Sukses untuk Pembelajaran Tatap Muka

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Bapak Nadiem Makarim mengatakan dalam revisi Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri penyebutan pembelajaran tatap muka di sekolah juga sudah diperbolehkan bagi wilayah dengan zona kuning. Hal tersebut sudah diungkapkan Mendikbud pada Webinar Penyesyaian Kebiajakan Pembelajaran di Masa Pandemi COVID-19, melalui Zoom dan ditayangkan di kanal YouTube Kemendikbud RI.

 

Berdasarkan data Kemendikbud sejak 19 Agustus, dari total 423.492 sekolah, sudah terdapat 32.821 sekolah dengan zona hijau (8 persen), 205.154 sekolah dengan zona jingga (48 persen), 151.269 sekolah dengan zona kuning (36 persen), dan 34.248 sekolah dengan zona merah (8 persen). Berdasarkan kebijakan SKB 4 Menteri, sudah ada 44 persen sekolah di Indonesia sudah diperbolehkan untuk melakukan pembelajaran tatap muka.

 

6 Pontensi dampak negatif

Bapak Suharton Arham, seorang Analis Kebijakan Setdirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud, menjelaskan bahwa kegiatan belajar mengajar yang tidak dilakukan di sekolah akan berdampak negatif bagi anak-anak diantaranya, pertama anak harus bekerja. Banyak anak yang putus sekolah karena harus “terpaksa” bekerja untuk dapat membantu keuangan keluarganya di tengah pandemi COVID-19. Kedua, Persepsi orang tua. Banyak orang tua yang tidak melihat anaknya benar-benar sekolah jika tidak dilakukan secara tatap muka. Ketiga, kesenjangan capaian belajar. Dengan adanya perbedaan akses dan kualitas saat pembelajaran jarak jauh dapat meningkatkan kesenjangan capaian belajar bagi anak yang memiliki sosial ekonomi yang berbeda.

 

Keempat, Risiko learning loss. Studi menemukan bahwa pembelajaran di kelas akan menghasilkan pencapaian lebih baik daripada dilakukan secara PJJ. Kelima, kekerasan yang tidak terdeteksi. Tanpa adanya sekolah, banyak anak yang akan terjebak kekerasan rumah tangga yang tidak dapat dipantau oleh guru. Keenam, adanya risiko internal. Saat anak tidak lagi datang ke sekolah, akan ada resiko terjadinya pernikahan dini, eksploitasi anak (terutama anak perempuan), dan meningkatnya kehamilan remaja.

 

Tidak Perlu tergesa untuk melakukan sekolah tatap muka

Bapak Arton juga mengingatkan untuk mengikuti protokol kesehatan harus dilakukan secara ketat dan sekolah yang sudah terdaftar dan diizinkan membuka kelas tatap muka baru diperbolehkan. Bukan hanya itu, pelaksanaan protokol kesehatan juga bukan hanya di sekolah, tapi juga tanggung jawab bersama masyarakat sebelum atau setelah anak-anak melakukan pembelajaran tatap muka supaya tidak ada persepsi mengenai munculnya klaster baru di sekolah.

 

Pak Anton juga menyampaikan bahwa Kemendikbud telah menyiapkan 3 opsi kurikulum yang bisa diterapkan dinas pendidikan daerah, yaitu kurikulum 2013, kurikulum darurat, dan kurikulum yang disederhanakan. Dengan kurikulum pilihan ini, Pak Anton berharap guru dan sekolah dapat lebih kreatif dan inovatif untuk menyajikan pembelajaran berkualitas serta menyenangkan bagi para siswanya. Baginya, guru yang hanya memberi banyak tugas pada siswanya malah membuat PJJ menjadi beban bagi orang tua. Inilah satu alasan yang membuat orang tua mendesak sekolah untuk segera melakukan pembelajaran tatap muka.

 

Baca Juga: Mengetahui Tahap Perkembangan Sosial Emosional pada Anak Usia Sekolah

 

Dengan melibatkan peran orang tua dan masyarakat, diharapkan pembelajaran tatap muka akan dapat berjalan dengan sukses tanpa harus menghadirkan klaster baru di sekolah.

Tags:

Read More

Daftar Indeks Berita Terbaru dari BPK Penabur

Yayasan

NEWS - 02 May 2019
Catatan dari Ketua Umum Yayasan BPK PENABUR dalam...

Yayasan

NEWS - 18 July 2020
Ibadah Syukur dan Perayaan HUT 7 DASAWARSA BPK PE...

Yayasan

NEWS - 13 July 2020
Pesan Yayasan BPK PENABUR

Yayasan

Artikel - 31 October 2019
Spiritualitas Guru Kristiani

Yayasan

Press Release - 01 December 2018
Pelantikan Pengurus BPK PENABUR Bandar Lampung da...

Yayasan

BLOG - 13 June 2020
Tips Menjadikan Belajar Online Menyenangkan untuk...

Yayasan

BLOG - 15 June 2020
5 Hal Seru yang Membantu Anak Makin Giat Belajar ...

Yayasan

BLOG - 16 June 2020
Meningkatkan Efektivitas dengan Mendengarkan Musik

Yayasan

BLOG - 17 June 2020
Menumbuhkan Minat Baca Anak dengan Metode Read al...

Yayasan

BLOG - 18 June 2020
Seberapa Banyak Kata yang Harus Dikuasai untuk Bi...

Yayasan

BLOG - 25 July 2020
5 Tips Melatih Anak Menjaga Kebersihan di Sekolah

Yayasan

BLOG - 01 August 2020
Tantangan Pendidikan di Era Disrupsi Teknologi

Yayasan

BLOG - 03 August 2020
5 Cara Menanamkan Rasa Nasionalisme Pada Anak

Yayasan

BLOG - 04 August 2020
Bagaimana Menjaga Efektivitas Belajar Saat Pembel...

Yayasan

BLOG - 05 August 2020
Belajar Cinta Tanah Air Bersama Siswa BPK PENABUR

Yayasan

BLOG - 08 June 2020
Tips Meningkatkan Konsentrasi Anak Saat Belajar O...

Yayasan

BLOG - 09 June 2020
Ini Dia Biaya Pendidikan Anak Dari SD hingga S1 y...

Yayasan

BLOG - 10 June 2020
5 Manfaat Pendidikan Karakter yang Penting untuk ...

Yayasan

BLOG - 25 June 2020
5 Tips Agar Anak Cerdas Dalam Berinternet. Orang ...

Yayasan

BLOG - 26 June 2020
3 Tipe Gaya Belajar! Mana Gaya Belajar yang Palin...

Yayasan

BLOG - 19 August 2020
Inilah Penjelasan Sekolah Satuan Pendidikan Kerja...

Yayasan

BLOG - 20 August 2020
Menguatkan Merdeka Belajar dan Prestasi Siswa di ...

Yayasan

BLOG - 21 August 2020
Sekolah TKK Favorit BPK PENABUR Bandung dengan Pr...

Yayasan

BLOG - 22 August 2020
Tips Agar bisa Fokus Belajar Home Learning saat P...

Yayasan

BLOG - 29 August 2020
Pentingnya Belajar Bahasa Inggris untuk Semua Ora...