Terbit Jurnal Pendidikan PENABUR Edisi 31

Jun 18, 2019 by

Terbit Jurnal Pendidikan PENABUR Edisi 31

Bagaimana Indonesia menyikapi perkembangan Era Digital? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy, dalam sambutannya pada Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2019 mengatakan Revolusi Industri 4.0 membutuhkan respons sumber daya manusia yang andal, sekaligus mampu menciptakan ragam peluang baru secara kreatif  justru di tengah ancaman disrupsi, ketika banyak jenis pekerjaan manusia tergantikan mesin. Jadi Revolusi Industri 4.0 tidak sepatutnya dipandang sebagai ancaman bagi manusia melainkan menantang manusia agar terus mengatasi tantangan dengan kreatif dan inovatif. Muhadjir menambahkan, “Karena itu, sekolah dan guru dituntut menerapkan pendidikan berbasis teknologi digital dengan sentuhan budaya Indonesia yang terpusat pada keluarga, sekolah, dan masyarakat”.

Ulasan Tim Kompas menyambut Hari Pendidikan Nasional, mengungkapkan bahwa Hasil PISA (Programme for International Student Assessment) 2015 menunjukkan kemampuan dasar siswa Indonesia berusia 15 tahun di bidang sains, membaca, dan matematika masih rendah. Kemampuan siswa Indonesia di bidang sains 403, membaca 397, dan matematika 386 di bawah rata-rata Negara yang tergabung dalam Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yaitu 493, 493, dan 490. Sementara itu di ASEAN peringkat Indonesia di bawah Thailand dan Vietnam. Hal ini terungkap pula pada hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) yang dilakukan Pusat Penilaian Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun2016 masih jauh dari memuaskan. Hal ini disebabkan pembelajaran di sekolah masih menekankan kepada hafalan semata. Sedangkan sekarang untuk menjawab tantangan pendidikan diharapkan pembelajaran berbasis penalaran tinggi yang akan menjadi modal bagi siswa untuk menjawab tantangan abad ke-21, menjadi manusia yang kreatif dan inovatif. Untuk mendorong pembelajaran berbasis penalaran tinggi yang dikenal dengan Higher Order Thinking of Skills (HOTS), Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendikbud Totok Suprayitno mengatakan  “Pembelajaran yang berbasis HOTS membutuhkan kemampuan guru untuk menyampaikan materi pelajaran yang mematangkan konsep”

Lebih lengkapnya dapat dibaca di Jurnal Pendidikan PENABUR Edisi 31 (Rosmawati Situmorang)

Link unduh Jurnal No.31 Tahun ke-17/Desember 2018

Related Posts

Tags

Share This